Kunci Sukses Membuat “Motivation Statement”


Memiliki segudang prestasi dan nilai akademik yang tinggi tak cukup menjadi syarat sukses meraih beasiswa. Motivation statement juga menjadi penentu keberhasilan dalam pengajuan aplikasi beasiswa. Dari rangkaian kata dalam surat tersebut, dewan penilai akan mengetahui karakter dan kompetensi yang kita miliki.

Yanuar Nugroho, yang pernah tergabung dalam tim penyeleksi beasiswa di Indonesia dan sempat menyeleksi aplikasi beasiswa di Manchester University, Inggris, mengungkapkan, ada dua hal yang harus dimunculkan saat Anda menulis motivation statement. Dua hal itu adalah karakteristik dan kompetensi.

Menurut dia, dalam karakter yang dinilai adalah apakah Anda bisa belajar mandiri, apakah Anda punya “nilai jual”, dan apakah dengan mendapatkan beasiswa, Anda dapat berpengaruh dalam lingkungan Anda.

Sementara itu, untuk kompetensi, lebih kepada kewajiban dan kesungguhan Anda menyelesaikan studi tersebut.

“Kompetensi, Anda diberi uang (beasiswa), Anda harus lulus,” kata Yanuar.

Akan tetapi, tuturnya, yang perlu diketahui adalah perbedaan antara menulis motivation statement untuk beasiswa S-2 dan beasiswa S-3. Ia menjelaskan, untuk beasiswa S-2 Anda hanya menulis motivation statement secara singkat, dengan 1.000 kata atau sekitar tiga halaman. Namun, untuk beasiswa S-3, Anda diharuskan menuliskannya dalam bentuk proposal penelitian.

Jika Anda berniat melanjutkan studi S-2 di negara-negara Eropa, strategi yang harus Anda lakukan adalah dengan “menembak” program studi sebanyak-banyaknya. Namun, jika niat Anda adalah untuk melanjutkan S-3, yang harus Anda kejar adalah siapa profesor yang cocok dan tertarik untuk mendampingi Anda melakukan penelitian.

“Kirim e-mail singkat kepada 15-20 profesor. Singkat saja, sekitar dua paragraf yang mengungkapkan minat Anda untuk melakukan penelitian tertentu, dan katakan, ‘Apakah Anda tertarik untuk mendampingi saya? Saya menunggu balasan dari Anda‘,” ujar Yanuar mencontohkan.

Ia mengingatkan, jangan pernah meminta beasiswa dan melampirkan proposal penelitian dalam e-mail pertama Anda. Menurut dia, hal itu sama dengan jalan tol untuk segera ditolak. Setelah ada jawaban dari sang profesor, Anda baru menyampaikan ide Anda dalam tiga atau empat paragraf, dan teruslah buat kontak dengan profesor tersebut.

“Setelah ada ketertarikan yang lebih dari professor tersebut, barulah katakan jika Anda memerlukan beasiswa. Jika sudah tertarik, tentu dia akan mencarikan jalan untuk Anda mendapatkan beasiswa,” katanya.

Sementara itu, Ariono Hadipuro, staf Nuffic Neso Indonesia, mengungkapkan, agar diterima menjadi mahasiswa di salah satu program studi di sebuah universitas, Anda harus mampu menuangkan alasan yang tepat mengapa Anda sangat tertarik dengan program studi itu, dan jelaskan apa yang menjadi rencana jangka panjang Anda setelah Anda selesai menempuh program studi tersebut.

Menurut dia, motivation statement adalah sebuah upaya yang mewakili Anda untuk memperkenalkan diri. Menulis motivation statement dengan tepat menjadi sangat penting mengingat banyaknya aplikasi serupa yang akan diterima oleh pihak universitas.

“Universitas ini menerima aplikasi dari banyak orang. Mereka ingin mengenal Anda karena mereka ingin tahu apakah keinginan Anda dapat terpenuhi oleh universitas. Jika mereka menganggap Anda tidak sesuai dengan program yang mereka tawarkan, universitas punya hak untuk menolak,” kata Ariono.

sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2011/10/13/09380069

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: