Nuvi Gustriawanto, Mahasiswa UGM Juara Dunia Konseling Pasien


Satu lagi putra Indonesia meraih penghargaan tingkat dunia. Nuvi Gustriawanto (20), mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi juara dunia pada Level Beginner Kompetisi Konseling Pasien Tingkat Dunia (Patient Counseling Event 2011) di Thailand.

Dalam kompetisi yang digelar pada tanggal 3-13 Agustus 2011 itu, Nuvi berhasil mengungguli para pesaingnya yang berasal dari Tunisia, Kanada dan AS. Kompetisi tersebut digelar bersamaan dengan rangkaian International Pharmacy Student Federation (IPSF) yang dihadiri sekitar 51 negara.

Dia berhasil menyisihkan 19 peserta pada tahap elimininasi. Dia pun sempat cemas mengingat lawan-lawan yang dihadapinya berasal dari negara-negara yang cukup maju di bidang farmasi, seperti AS dan Kanada.

Menurut Nuvi, kompetisi ini dibagi menjadi dua kategori, yaitu beginner (untuk mahasiswa S1) dan advance (profesi dan S2). Pada tahap eliminasi dengan melibatkan 19 peserta ini Nuvi harus memberikan konseling kepada pasien terkait infeksi gigitan anjing.

“Pada tahap tiga besar tema yang dihadapinya yaitu hormon replacement therapy pada kasus menopause wanita,” kata Nuvi di kantor Stana Parahita, Gedung Pusat UGM, Yogyakarta, Rabu (24/8/2011).

Meskipun sempat grogi, Nuvi mengaku tetap semangat dalam kompetisi itu. Berbekal bahasa Inggris yang dikuasai serta pengalamannya di Pusat Informasi Obat Gadjah Mada, akhirnya Nuvi dinyatakan oleh dewan juri sebagai juara pertama.

“Selain mahir berbahasa Inggris, di kelompok studi Pusat Informasi Obat UGM banyak hal yang bisa dipelajari di antaranya ilmu soal konseling dan obat,” kata mahasiswa kelahiran Yogyakarta, 3 Agustus 1991 ini.

Di hadapan dewan juri, Nuvi bercerita bagaimana ketika ia menghadapi pasien dengan keluhan tersebut. Ketika memberikan konseling khususnya obat kepada pasien dimulai dari introduksi, mengetahui data/informasi pasien, gaya hidupnya, riwayat penyakit, pemberian resep hingga tahap akhir. Dari penuturannya ini Nuvi menilai sikap empati memiliki porsi yang besar terhadap pemahaman terhadap obat dan kesembuhan pasien.

Ia mencontohkan peran farmasis yang bisa berperan dalam mencegah kesalahan penggunaan obat hingga pemilihan obat yang tepat bahkan terjangkau masyarakat.

“Kesadaran masyarakat kita juga belum terbangun untuk bertanya tentang obat yang diresepkan dokter. Berbeda dengan yang sudah terbangun di luar negeri,” katanya.

Nuvi yang ikut dalam kompetisi dengan biaya sendiri tersebut mengaku mendapatkan sertifikat, piagam penghargaan serta buku terapi asli berhologram setelah dinyatakan menjadi juara dunia. Ia berharap ke depan peran farmasis di Indonesia akan lebih baik dan sederajat dengan dokter terkait dengan pemberian resep kepada pasien.

sumber: (bgs/fay) http://www.detiknews.com – 24 Agustus 2011

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: